Sunday, January 15, 2012

Anak Kecil dan Semangkuk Bubur

Ini satu cerita yang saya alamin di minggu ini. sekitar hari Rabu, tanggal 11 Januari. seperti biasanya saya pergi menuju tempat bimbingan belajar di Ganesha Operation pagi itu. Ya, sangat pagi. mengingat jarak antara rumah menuju tempat itu kurang lebih 35 kilo, dan karena daerah yang saya lalui itu daerah Bypass yang cenderung macetnya minta ampun. mau nggak mau saya mesti berangkat sepagi mungkin, klo perlu jam 6 dari rumah agar bisa sampai tempat sebelum jam 7.30.
Tapi hari itu beda. saya sengaja mengulur-ulur waktu keberangkatan. Serasa ingin datang telat ke tempat bimbel. mungkin karena sedikit jenuh, karena selalu mengulang rutinitas yang itu-itu aja (jangan dicontoh ya..). Jam pun sudah menunjuk angka 6.25, langsunglah saya manasin motor.
Setelah itu saya langsung ngeluarin motor dari bagasi, dan di luar ada tukang bubur ayam, tepat didepan rumah tetangga saya. tukang bubur terlihat sedang meladeni seorang ibu yang sedang menggendong bayinya, tapi bukan itu yang menrik perhatian saya. Dari jauh saya melihat seorang anak kecil yang umurnya mungkin belum genap dua tahun, saya mengira demikian karena saya lihat tinggi anak itu tidak lebih dari satu meter. saya nggak tau dia anak siapa, karena saya baru lihat. Dia jalan, sedikit berlari, menuju tukang bubur sambil membawa mangkuk kosong di tangan kanannya dan sejumlah uang di tangan kirinya. Banyangkan, betapa riweuh (in sundanesse) or rempongnya  (in salonesse) anak itu. Saya tidak melihat ada orang tua di sampingnya. Berani sekali anak itu. Kemana oarang tuanya?masak anaknya mau beli bubur nggak ditemenin. Di satu sisi saya saluuuuuuut banget sama anak itu, sekecil itu (bayangkan), bisa beli bubur sendiri, dan saya yakin rumahnya bukan disekitar sini, karena saya belum pernah lihat. yang saya takuti adalah, gimana kalo dia diculik "naudzubillah himndzalik", karena kurang ada awasan dari orang tua. anak sekecil itu perlu diapresiasi menurut saya. saya aja malu, waktu saya sebesar dia dulu mungkin saya belum berani buat beli makanan sendiri. Namun, di sisi lain, apa mungkin orang tuanya yang sengaja menyuruh anaknya untuk beli bubur sendiri untuk dirinya sendiri? Sedikit kejam ya kalau memang kayak gitu.. :(.
Pengenya sih masih cerita banyak lagi tentang anak itu, tapi saya nggak tau dimana dia sekarang, belum pernah lihat dia lagi. pokoknya buat para orang tua, baik memang mengajarkan buah hati kita untuk belajar mandiri, berani, dan percaya diri, tapi ingat semua itu harus orang tua yang pantau. Jangan sampai dibiarkan melakukannya sendiri, apalagi di luar rumah. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. So, jaga buah hatinya ya ayah bunda .... :D

No comments:

Post a Comment